Tampilkan postingan dengan label HYSTORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HYSTORY. Tampilkan semua postingan

In December 1978 two EDS executives working in pre-revolutionary Tehran are arrested on suspicion of bribery. Bail was set at US...






In December 1978 two EDS executives working in pre-revolutionary Tehran are arrested on suspicion of bribery. Bail was set at US$13 million (90 million Iranian toman). When H. Ross Perot, head of the Dallas-based company hears about it, he decides to extract his employees regardless of cost. He orders the firm's lawyers to find a way to meet the bail. He recruits a team of volunteers from his executives, led by a retired United States Army officer, to break them out by force, if necessary. This team flies to Tehran.

Their well-rehearsed plan to break the two from jail fails because of a prison transfer. The team figures out another way to rescue their colleagues. This culminates in an overland escape to Turkey. Meanwhile, riots and violence dominate the streets of Tehran escalating daily. This culminates in the Iranian Revolution led by Khomeini against the Shah, endangering the other EDS employees as well.

The incident attracted attention from the press when it occurred in early 1979. Bill Gaylord and Paul Chiapparone, two U.S. citizens working in Iran for Electronic Data Systems (EDS), a Dallas-based computer services corporation, were jailed on December 28, 1978. They were victims of an anticorruption drive mounted during the Shah's last days in Iran, a drive based more on the politics of the moment than on legality or truth. Consequently, while the prosecutor who had them arrested did not file formal charges against the two, he set bail at $12,750,000.

Stunned by these arbitrary arrests, H. Ross Perot, founder and chairman of EDS, mobilized both his and the company's resources to get the two employees out of jail. He became personally engrossed in the effort to release Gaylord and Chiapparone. Perot began by trying traditional venues, such as lobbying the U.S. government for help, and seeking the counsel of lawyers.

He also organized a strike team. A retired army colonel, Arthur D. "Bull" Simons was hired to train seven company volunteers to try to rescue the two jailed men. Working from their experiences in Tehran, the men trained at Perot's weekend house at the shore of Lake Grapevine near Dallas. Beginning January 3, 1979, they practiced assaults on a model of the Ministry of Justice prison in Tehran, where the EDS men were being held.

When all other means appeared to be failing, Perot asked Simons to proceed to Tehran with his team. They flew to Iran in mid-January, closely followed by Perot himself, who insisted on overseeing the operation personally and who hoped that his presence would improve the spirits of his jailed employees.

Once in Tehran, Perot and Simons found that nothing worked as they had planned. The ministry of Justice turned out to be far better protected than anyone had remembered. Additionally, Gaylord and Chiapparone had been transferred on January 18 to the Qasr Prison, one of Tehran's largest and best fortified jails. Though Simons knew his team could not attack Qasr on its own, he had studied history enough to realize that the revolution was soon going to peak. The Shah had fled Iran on January 16. Khomeni was to return to the country from France on February 1. Street mobs were likely to storm the prison and release the inmates. At the same time, EDS kept up its efforts to resolve the problem through legal means. U.S. banks refused to get involved in paying the bail, fearing involvement in matters of bribery and ransom. When one bank finally did cooperate with EDS, matters bogged down on the Iranian side. When all else failed, EDS lawyers tried to convince Iranian officers to accept the U.S. embassy in Tehran as bail - ironic in retrospect of the embassy's subsequent seizure by the Iranian government. All these efforts collapsed on the 10th of February.

Just one day later, Tehran street crowds erupted. Among them was Rashid, an ambitious young Iranian systems engineering trainee at EDS. Loyal to his American employers and eager to help them win the release of their jailed colleagues, Follett describes him as the instigator of the mob's attack on Qasr prison.

Rashid's efforts were successful: Gaylord and Chiapparone fled the jail along with the other prisoners. A few hours later they met at Simons' room at the Hyatt Crown Tehran.

The escape from prison was easier than exiting the country. Gaylord and Chiapparone were wanted by the police. Neither had passports and so could not depart legally.

Simons divided the remaining EDS employees in Tehran into two groups. The less suspicious were to leave via airplane from Tehran. The more vulnerable, including the two fugitives, were to go to Turkey in two Range Rovers. Rashid accompanied the latter group on their 450 miles (720 km) trip across northwest Iran. In two days of driving they repeatedly came close to capture. On almost every occasion, Rashid's quick wit saved them. When he and the six Americans crossed the Turkish border, they were met by an EDS employee waiting with a bus and a charter plane. One day later, February 17, they reached Istanbul, where an anxious Perot had been pacing up and down his hotel room. That the fugitive pair lacked passports and had entered Turkey illegally rendered even the Turkish portion of the journey somewhat risky.

On the same day the overland team reached Istanbul, the other EDS employees left Tehran by plane-barely escaping the same prosecutor who earlier had jailed their colleagues. The two teams met in Frankfurt, Germany, and flew together (via an emergency landing in England)[clarification needed] to the United States. All of them, including Rashid, arrived on February 18.https://en.wikipedia.org


DOWNLOAD LINK 1

 DOWNLOAD LINK 2


 DOWNLOAD LINK 3

Kapanlagi.com - Bagi kamu pecinta film perang dan sejarah, Dunkirk jadi salah satu film yang bisa kamu jadikan daftar film yang bisa kamu...

Kapanlagi.com - Bagi kamu pecinta film perang dan sejarah, Dunkirk jadi salah satu film yang bisa kamu jadikan daftar film yang bisa kamu tonton. Film yang tayang pada 20 Juli 2017 lalu ini merupakan film sejarah pertama karya sutradara Christopher Nolan, yang juga bertindak sebagai penulis naskah.

Dunkirk sendiri merupakan operasi militer yang terjadi di Dunkirk, Perancis. Operasi militer ini dikenal dengan nama The Battle of Dunkirk yang terjadi saat Perang Dunia ke-2 yaitu mulai 26 Mei hingga 4 Juni 1940.

Pada filmnya, diceritakan terdapat lebih dari 400 ribu tentara Inggris dan Perancing pada saat Perang Dunia ke-2 yang terlantar di Dunkirk. Mereka menantikan keajaiban adanya aksi penyelamatan atau sampai mereka mati.

Uniknya, dalam film ini dikisahkan dari tiga sudut pandang, yaitu The Mole (darat), The Sea (laut), dan The Air (udara). Masing-masing sudut juga memiliki rentang waktu yang berbeda satu sama lain, yaitu 1 minggu untuk di darat, 1 hari untuk di laut dan 1 jam untuk udara. Meski penonton bakal dibuat bingung dengan alur ceritanya, namun suasana tegang sejak awal film tentu bisa jadi menghipnotismu untuk menikmati film dan alurnya.

Sudut Pandang Darat (1 Minggu)

Dalam sudut pandang ini, diceritakan ada enam tentara yang berjalan di jalanan Dunkirk. Mereka menyusuri rumah-rumah yang ditinggalkan untuk mencari makanan. Sampai pada akhirnya lima orang tentara tertembak oleh tentara Jerman. Tommy yang diperankan oleh Fionn Whitehead pun harus bertahan hidup sendirian.

Dalam perjalanannya untuk melindungi diri dari serangan bom yang dijatuhkan dari udara, ia melihat banyak tentara-tentara tewas tergeletak di jalanan dan pantai. Sampai pada akhirnya ia melihat Gibson (Aneurin Barnard) yang sedang mengubur tentara lain di pantai. Saat itulah Tommy membantu Gibson, dan perjalanan menyelamatkan diri mereka pun dimulai.

Agar bisa dievakuasi dari tempat mencekam tersebut, Tommy dan Gibson berpura-pura menjadi petugas medis saat mereka menemukan seorang tentara yang terluka. Dengan membawanya ke kapal, mereka pun juga bisa ikut terevakuasi. Namun sayangnya Tommy dan Gibson belum berhasil. Beruntung mereka bisa bersembunyi di balik batu pemecah ombak sampai kapal lain datang. Di tengah harapan Tommy dan Gibson menunggu kapal untuk dievakuasi, sayangnya kapal tersebut terkena serangan bom dari tentara Jerman dan tenggelam. Tommy dan Gibson pun berhasil menyelamatkan salah satu tentara bernama Alex (Harry Styles).

Kisah mereka bertiga pun dimulai dengan bekerja sama untuk usaha penyelematan diri. Dalam waktu seminggu ketiga tentara ini berjuang untuk menyelamatkan diri agar bisa dievakuasi.

Sudut Pandang Laut (1 Hari)

Pengambilan angle di laut ini menceritakan tentang seorang marinir bernama Dawson (Mark Rylance) yang berlayar menggunakan kapal pribadinya bersama sang anak bernama Peter (Tom Glyne-Carney) yang ingin menyelamatkan para tentara. Dawson dan Peter membutuhkan waktu satu hari untuk bisa menyelamatkan para tentara.

Sudut Pandang Udara (1 Jam)

Sudut pandang yang ketiga merupakan cerita dari pilot Royal Air Force bernama Farrier (Tom Hardy) dan Collins (Jack Lowden) yang berjuang untuk mengalahkan pesawat tempur musuh. Sayangnya Farrier dilumpuhkan oleh Jerman sehingga Collins meninggalkannya dan berjuang sendiri. Dalam waktu sejam mereka terlibat pertempuran udara.

Cerita juga diambil dari sudut pandang udara (credit: youtube.com)Cerita juga diambil dari sudut pandang udara (credit: youtube.com)
Pada akhirnya, pesawat Collins kehabisan bahan bakar dan harus mendarat darurat di laut. Di sinilah ia bertemu Dawson dan Peter. Saat ini pulalah, para pemeran dari ketiga sudut pandang ini bertemu di laut. Lantas, bagaimana aksi penyelematan para tentara ini berakhir?

Selain Tom Hardy yang sudah dikenal dengan akting yang luar biasa, film Dunkirk merupakan film perdana bagi aktor Fionn Whitehead dan personil One Direction, Harry Styles. Namun tak disangka banyak komentar positif bagi kedua pemain yang memainkan peran mereka dengan sangat baik. Ditambah lagi dengan sentuhan scoring dari Hans Zimmer tentu saja film ini mampu membuat penonton ikut merasakan ketegangan.

Aksi penyelamatan 400 ribu tentara saat Perang Dunia ke-2 (credit: youtube.com)Aksi penyelamatan 400 ribu tentara saat Perang Dunia ke-2 (credit: youtube.com)
Film yang merupakan produksi dari empat negara yakni, Inggris, Amerika, Belanda dan Perancis ini juga masuk dalam nominasi beberapa ajang perfilman yang nantinya akan bersaing dengan film-film lain dalam beberapa kategori. Bagaimana KLovers, tertarik untuk menonton? Yang pastinya bisa kamu simpan dulu untuk daftar film yang harus kamu tonton nih ya.




Film dimulai saat veteran perang dunia 2 (Harrison Young) dan keluarganya berziarah ke Taman Makam Pahlawan Normandia-Amerika, Collevil...


Film dimulai saat veteran perang dunia 2 (Harrison Young) dan keluarganya berziarah ke Taman Makam Pahlawan Normandia-Amerika, Colleville-sur-mer, Perancis. Veteran tersebut lalu jatuh berlutut dan menangis di depan sebuah makam. Pada saat itu, scene film berganti menjadi ketika awal dilakukannya Invasi Normandia. Satu di antara pemimpin invasi, Kapten John H. Miller (Tom Hanks) memimpin pasukannya menembus perbatasan milik Jerman di Pantai Omaha, Normandia.

Sementara, di Amerika Serikat, jenderal George Marshall mengetahui bahwa 3 dari 4 prajurit Ryan bersaudara telah terbunuh, maka, agar Ryan bungsu / perwira James Francis Ryan (Matt Damon) tidak mengalami hal serupa dan dapat dikembalikan kepada ibunya, George Marshall memerintahkan agar suatu pasukan dapat mengembalikan pulang Ryan dengan selamat.

Di Perancis, Miller menerima perintah tersebut melalui komandan batalionnya, letkol Walter Anderson (Dennis Farina). Ia pun memilih anggota pasukannya, dan terpilihlah 6 orang (Tom Sizemore, Edward Burns, Barry Pepper, Giovanni Ribisi, Vin Diesel, dan Adam Goldberg) untuk ikut dalam misinya, serta seorang kartografer militer, Timothy E. Upham (Jeremy Davies), sebagai penerjemah bahasa setempat (meski ia jarang menggunakan senapannya).

Dengan tidak adanya informasi apapun di mana Ryan berada, pasukan Miller pun pergi ke Neuville. Di situ, salah seorang anggota mereka, Caparzo (Vin Diesel) tewas tertembak seorang sniper Jerman. Mereka melanjutkan perjalanan dan menemukan perwira James Frederick Ryan (Nathan Fillion) yang ternyata salah orang. Pasukan Miller diberi tahu bahwa titik pendaratan pasukan penerjun yang sekelompok dengan Ryan mendarat di Vierville, dan mereka menuju Vierville.

Beruntung, salah seorang prajurit penerjun yang sekelompok dengan Ryan berada di Vierville, dan ia mengatakan bahwa semua anggota prajurit penerjun terpencar, namun mereka memiliki rally point di Ramelle. Pasukan Miller lalu menuju Ramelle, namun harus melewati kamp Jerman yang menggunakan radar tak terpakai (rusak) sebagai bangunan kamp. Mau tak mau, mereka harus berlari menembus kamp tersebut. Saat berlari melewati kamp tersebut,mereka berhasil membunuh hampir semua prajurit Jerman, namun salah seorang anggota pasukan Miller, Technician Fourth Grade Irwin Wade (Giovanni Ribisi) tewas tertembak. Perwira Richard Reiben (Edward Burns) menemukan salah seorang anggota Jerman yang masih hidup (Joerg Stadler) dan memukulinya, menyulut emosi semua anggota pasukan Miller, kecuali Upham yang protes kepada Miller karena tawanan tidak boleh dibunuh. Miller akhirnya melepasnya, dan menyuruhnya agar melangkah sambil ditutup matanya dan menyerah kepada patroli sekutu.

Heran dan kecewa dengan tindakan Miller, Reiben protes dan bertengkar dengan sersan Michael "Mike" Horvath (Tom Sizemore), yang mengancam akan keutuhan tim, Miller menceritakan darimana asalnya dia berasal dan apa pekerjaannya sebelumnya, yaitu seorang guru dan mengajar bahasa Inggris dan baseball di sebuah sekolah kecil di Pennsylvania. Reiben yang tidak menyangka dan terkejut dengan profesi Miller sebelumnya, diam dan mau melanjutkan perjalanan, setelah mengubur jasad Wade.

Pasukan Miller akhirnya sampai di Ramelle, dan menghancurkan sebuah kendaraan pengintai milik Jerman, dibantu oleh sebuah pasukan kecil, termasuk Ryan di dalamnya. Kedua pasukan bergabung dan Miller lalu memberitahu Ryan bahwa kesemua saudaranya tewas, dan perihal mengenai maksud misinya, yaitu membawa Ryan pulang ke Amerika. Ryan awalnya tidak mau meninggalkan pasukannya, namun setelah mendengar perkataan Reiben bahwa ada 2 orang temannya yang tewas karena mencari Ryan (Caparzo dan Wade), Ryan mau menurut.

Namun, basis tempat pasukan Ryan tugas adalah perbatasan wilayah,dan akan ada serangan dari Jerman menuju ke situ, pasukan Miller akhirnya membantu dan bergabung melawan pasukan Jerman yang datang. Karena persenjataan Jerman lebih lengkap (2 buah Tiger tank, beberapa senapan mesin, 1 buah meriam FlaK 38, dan ± 50 orang pasukan), pasukan Amerika terdesak, satu per satu anggota pasukan Miller tewas, dan ketika strategi menghancurkan jembatan perbatasan akan dilakukan, tank Jerman menggagalkannya, Miller tertembak di jembatan oleh "Steamboat Willie", prajurit Jerman yang tidak jadi dibunuh oleh pasukan Miller saat di dekat Ramelle.

Saat tank Tiger hendak melewati jembatan, Miller yang terluka berusaha menembakinya dengan pistol, tetapi tidak berhasil. Ketika tank tersebut di tengah jembatan, sebuah unit P-51 Mustang menembak tank tersebut, dan disusul oleh beberapa unit P-51 lainnya serta pasukan tambahan. Upham yang bersembunyi di dekat "Steamboat Willie", muncul secara tiba-tiba dan menembaknya, yang merupakan orang pertama yang dibunuhnya dalam perang. Ryan lalu mendekati Miller yang sekarat, dan mendengar kata-kata terakhirnya sebelum tewas, yaitu "James...earn this, earn it", yang kurang lebih artinya "James...jangan sia-siakan hidupmu".https://id.wikipedia.org





Lalu, film kembali ke masa saat Ryan tua yang menjadi veteran berziarah ke makam Miller, seraya bertanya kepada istrinya, "Apakah aku sudah menjadi lelaki yang baik ?" dan istrinya menjawab sudah. Ryan lalu berkata kepada makam Miller, bahwa ia sudah menghargai "hidupnya" dan sudah menjadi lelaki yang baik. Ryan lalu hormat kepada makam Miller dan film pun selesai.

Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya film besutan Yosep Anggi Noen berjudul Istirahatlah Kata-kata tayang di bioskop Indonesia pada 1...




Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya film besutan Yosep Anggi Noen berjudul Istirahatlah Kata-kata tayang di bioskop Indonesia pada 19 Januari 2017. Film biografi ini memvisualisasikan bagaimana sosok Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) melarikan diri ke kota Pontianak. Selama hampir 8 bulan di Pontianak, Wiji tinggal berpindah-pindah rumah bahkan tinggal bersama dengan orang-orang yang sama sekali belum dia kenal, seperti rumah dari seorang dosen bernama Thomas (Dhafi Yunan) dan aktivis asal Medan, Martin (Eduwart Boang Manalu), yang tinggal bersama istrinya, Ida (Melanie Subono).
Di balik itu, sosok Wiji merupakan seorang penyair sekaligus aktivis yang kritis terhadap ketidakadilan penguasa. Puisi-puisi yang telah ia buat merupakan cara bagaimana ia berontak di masa Orde Baru saat banyak orang-orang bungkam dalam ketakutan. Selama pelarian pun ia enggan berhenti mengutarakan kata demi kata dalam bentuk puisi.

Sementara itu, jauh di Solo, Sipon (Marissa Anita), istri Wiji Thukul harus hidup bersama dua anaknya. Hidup dalam tekanan, rumah yang selalu diawasi polisi, bahkan koleksi buku-buku Wiji harus rela disita. Tidak hanya itu, Sipon dan anaknya harus membuka mulut saat diinterogasi. Film Istirahatlah Kata-kata bisa menggambarkan bagaimana rezim di masa itu, bagaimana seorang aktivis sangat terancam di masa itu, bagaimana menjadi kritis itu sangat dilarang kala itu.
Sebaiknya jangan terlalu berekspektasi lebih pada film ini dan lebih baik kalian yang menonton film ini, lebih tahu dulu siapa sosok Wiji Thukul sebenarnya. Film ini memang mengisahkan bagaimana pelarian sosok Wiji Thukul yang menjadi buronan, namun sang sutradara tidak menampilkan banyak informasi bagaimana konflik seorang Wiji Thukul dijadikan buronan. Tidak ada cerita tentang bagaimana kisah hidupnya dengan detail, bagaimana ia membacakan setiap puisi-puisinya pada publik, atau pun visualisasi demonstran di masa itu.

Seperti sebuah monolog, selama kurang lebih 1 jam, Istirahatlah Kata-kata lebih banyak menampilkan keheningan yang mencekam dengan suara Gunawan membacakan penggalan demi penggalan syair puisi sang Wiji Thukul. Mungkin akan terasa bosan dan garing bahkan mengantuk, namun pada pertengahan film kita bisa melihat bagaimana sosok Wiji bisa lepas dan mulai memunculkan guyonan lucu bersama Thomas dan Martin di salah satu kedai. Meski tidak banyak, namun cukup menghibur.


Menjadi sosok Wiji, Gunawan benar-benar ahli sekali memerankannya. Meski tidak banyak dialog yang ia ucapkan, mimik yang ia berikan pada setiap adegan sudah mewakili bagaimana rasa cemas, putus asa dan takut sehingga bisa menggambarkan bagaimana situasi pada masa itu. Selain itu, sosok yang kita kenal sebagai news anchor, Marissa Anita, apik sekali memerankan sosok ibu yang harus hidup menanggung pilu menahan tekanan, kuat, dan penyayang.

Bagi sebagian orang mungkin akan terlihat aneh sosok Gunawan yang terlihat begitu nyeni dipasangkan dengan Marissa yang kita lihat cantik dalam penampilan mereka sebagai pasangan suami istri. Namun sang sutradara sepertinya bisa menyatukan kedua sosok manusia berseberangan ini dalam satu cerita. Terlebih lagi pada akhir cerita saat mereka dipertemukan kembali. Menampilkan romantismenya mereka berdua, sosok keluarga yang utuh dengan hidup sepenanggungan dengan berbagai macam masalah hidup, sampai pada puncaknya bagaimana kita akan dibuat bertanya-tanya atau akan diam setelah film ini selesai.sinopsis



Karl Marx, tentu kita sudah tidak asing lagi dengan nama “Bapak Komunis” ini. Film yang dirilis pada tahun 2017 ini umumnya menceri...




Karl Marx, tentu kita sudah tidak asing lagi dengan nama “Bapak Komunis” ini. Film yang dirilis pada tahun 2017 ini umumnya menceritakan tentang ide-ide Marx, Engels, Proudon, Bakunin, dan Weitling. Namun yang menjadi fokus utama film ini adalah kisah persahabatan antara Karl Marx dan Frederich Engels. Dibuka dengan scene yang menampilkan rakyat-rakyat jelata yang sedang mengumpulkan kayu bakar di hutan, dan beberapa saat kemudian mereka dengan kejamnya dipukuli oleh para petugas keamanan, yang merupakan simbolisasi dari perenungan Marx, tentang bagaimana bisa mengumpulkan kayu kering yang telah jatuh dari pohon dan ditakdirkan untuk membusuk di tanah, dianggap sebagai sebuah tindakan pencurian?

Kemudian ditampilkan sebuah konflik di mana seorang buruh Irlandia, Mary Burns (diperankan oleh Hannah Steele) yang melawan pemilik perusahaan karena ketidakadilannya, sebelum kemudian diperintahkan untuk keluar. Hal ini yang kemudian mengawali kisah antara Mary Burns dengan Friedrich Engels yang ironisnya adalah anak dari pemilik perusahaan tersebut.

Tokoh-tokoh utama film ini diperankan oleh para aktor dengan begitu apik dan meyakinkan. August Diehl, yang berperan sebagai Marx, bersama dengan Vicky Krieps sebagai Jenny Marx, dan Stefan Konarske sebagai Engels, begitu fasih dalam dialek Jerman, Perancis dan Inggris, yang menambah nilai otentik dalam film biografi berdurasi dua jam ini.

Disutradarai oleh Raoul Peck, film ini secara keseluruhan bercerita tentang ide-ide revolusi dan radikalisme yang muncul bersamaan di Eropa. Dibuat berdasarkan surat-menyurat antara Marx dan Engels di tahun 1840-an, ikatan di antara kedua revolusioner ini menjadi tema utama dari film ini, bagaimana penelitian Engels tentang kondisi para pekerja di England berhasil mencuri perhatian Marx, atau bagaimana kagumnya Engels pada kecerdasan pemikiran Marx yang akhirnya mendorongnya untuk mengajak Marx membuat sebuah analisis ekonomi tentang kapitalisme. Keintiman persahabatan mereka terlihat jelas di sini, yang membawa mereka sampai kepada proses penulisan Communist Manifesto.

Bukan hanya antara Marx dan Engels, istri kedua pria ini juga turut mengambil bagian yang penting dalam film ini. Karakter-karakter perempuan utama di film ini tidak ditampilkan sebagai pelengkap saja. Sebut saja Mary Burns, seorang pekerja militan yang diperankan oleh Hannah Steele, yang merupakan istri Engels secara de facto.

Dengan koneksinya dengan para buruh, ia mampu menyuguhkan kepada Engels wawasan-wawasan yang lebih dalam dan dekat tentang kehidupan para buruh. Dan Jenny Marx atau Jenny von Westphalen, yang digambarkan bukan sebagai kekasih Marx yang aristokratik, justru ia ditampilkan sebagai seseorang yang menginspirasi dan mendukung ide-ide Marx. Di suatu scene ditampilkan Jenny menyarankan sebuah judul untuk tulisan Marx, ‘Critique of Critical Critique’. Di satu scene lain, Engels berkata pada Jenny bahwa ia adalah perempuan yang hebat yang bisa saja hidup kaya, aristokratik dan mewah, yang ditanggapi Jenny dengan jawaban kritis, “Happiness requires rebellion. Rebellion against the establishment, the old world. That’s what I believe.”

”No, the three of us, Jenny,” jawab Engels menanggapi pernyataan Nyonya Marx tersebut. Jenny lalu dengan spontan menjawab, “It’ll take more than the three of us, don’t you think?”

Film ini diakhiri dengan sebuah montase singkat dari adegan-adegan Che Guevara, perang dan protes yang terjadi di Vietnam, runtuhnya Tembok Berlin, dan peristiwa-peristiwa lain yang mungkin mengingatkan kita bahwa para filsuf menginterpretasikan dunia ini dalam beragam cara, yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita berpikir dan berusaha mengubah dunia itu sendiri.

Melihat realita, masih banyak ketidakadilan yang terjadi, buruh-buruh masih jauh dari kata sejahtera dan barangkali Karl Marx saat ini sedang meringis di kuburnya. Tapi apakah ia kalah? Tentu tidak. Ajaran, ideologi, gagasan, dan perjuangannya masih akan terus berlanjut dan mungkin tidak akan berakhir.

“Let the ruling classes tremble  at  a communist  revolution. The ploretarians have  nothing to lose but their chains. They have a world to win.

Working men of all countries, unite!”

-Karl Marx

 Penulis: Rara Lubis, Mahasiswa Sastra Indonesia UAD






Film aksi barat berjudul “Mark Felt: The Man Who Brought Down the White House” ini merupakan film yang  bercerita tentang kisah...






Film aksi barat berjudul “Mark Felt: The Man Who Brought Down the White House” ini merupakan film yang  bercerita tentang kisah dari sebuah nama samara ‘Deep Throat’ yang diberikan pada pelapor terkenal pada salah satu kasus skandal terbesar sepanjang masa, Watergate. Misteri nama samaran tersebut membuat banyak pihak yang penasaran dan ingin mengetahui identitas asli nama samaran tersebut.
Hingga pada tahun 2005, tiba-tiba dengan mengejutkan seorang agen khusus bernama Mark Felt ( Liam Neeson ) menyatakan bahwa dirinya merupakan informan rahasia tersebut. Sehingga kisah nyata yang luar biasa ini akan bercerita tentang kehidupan pribadi dan juga profesional dari Mark Felt, dengan karir cemerlang yang tidak kenal kompromi membuat dirinya harus mempertaruhkan dan juga mengorbankannya segalanya dalam hidupnya seperti keluarga, karir dan kebebasan yang dilakukan untuk sebuah keadilan. http://www.sinopsisfilem21.com




 DOWNLOADLINK 3 / MEDIAFIRE

MOMENTS OF VISION " MASIH MENUNGGU TAYANG" DOWNLOAD LINK 1  DOWNLOAD LINK 2  DOWNLOAD LINK 3



MOMENTS OF VISION

" MASIH MENUNGGU TAYANG"

DOWNLOAD LINK 1

 DOWNLOAD LINK 2


 DOWNLOAD LINK 3

New Gallery 2015/2/19 test test In the aftermath of the battle, Heahmund recovers, makes advances and pledges loyalty to Lagertha. ...





In the aftermath of the battle, Heahmund recovers, makes advances and pledges loyalty to Lagertha. Hvitserk secures reinforcements from Rollo, on condition that Bjorn's life is spared. Bjorn seeks peace with Ivar and Harald, but is rejected; Ivar moves to have him killed but is stopped by Harald. Floki's temple is completed, but set afire and destroyed by Bul, Eyvind's son, bringing the conflict within the colony to a head. In Wessex, Aethelwulf dies and Judith persuades Aethelred to reject the throne and instead propose to the Witanthat Alfred become king.

https://en.wikipedia.org





New Gallery 2015/2/19 test test Alfred returns from Lindisfarne, and argues that the Saxons must build a navy as the only way to sto...



Alfred returns from Lindisfarne, and argues that the Saxons must build a navy as the only way to stop further Viking incursions. In the new land, Floki proposes building a temple to Thor, but is opposed by Eyvind who warns that they all will starve come winter. Meanwhile, the armies of Lagertha, Bjorn and Ubbe, and of Harald, Ivar and Hvitserk, meet above Kattegat. Lagertha proposes peace talks, but Harald, then Ivar, reject a settlement. Before battle, Ivar takes Astrid and a third of their army towards shore, to protect their fleet. Hvitserk and his group try to flank, but are ambushed in the forest by the Sami. Battle begins, and Bjorn and Lagertha gain the upper hand, as Harald's forces are outflanked. Ivar hears the fighting, but says it is too late to help. Heahmund is wounded, and Harald retreats. Lagertha refuses to kill Heahmund and orders that his life be saved.https://en.wikipedia.org






New Gallery 2015/2/19 test test Alfred reaches Lindisfarne, in search of the memory of his father, and hears his voice as he p...






Alfred reaches Lindisfarne, in search of the memory of his father, and hears his voice as he prays. Floki and the settlers begin creating a settlement near hot springs in their new land. Floki proposes a co-operative, democratic approach, but Eyvind does not trust him and accuses Floki of wanting to be King. Astrid tells Harald that she is pregnant, while Ivar and Heahmund discuss their plan of attack. Bjorn returns to Kattegat, where Lagertha has allied with King Svase of the Sami. Bjorn rejects Torvi and proposes to marry Snaefrid, Svase's daughter. Lagertha and her allies discuss how to respond to Ivar's attack, and decide to meet him in battle on land, assuming that he will not attack the town from the sea. Margrethe continues to urge Ubbe to betray Lagertha, so that when she is defeated, he can become King.https://en.wikipedia.org





  Floki and the settlers prepare for their voyage but are betrayed to Lagertha, who is angry but lets them sail. O...




  Floki and the settlers prepare for their voyage but are betrayed to Lagertha, who is angry but lets them sail. On reaching the new land, the settlers discover that it is not as fertile as Floki had told them. Margrethe is vexed with Lagertha's poor leadership; the Queen threatens to enslave her again if she continues to plot against her. In England, the Saxons have retreated; Alfred swears at Ecbert's grave to pursue the former King's vision of uniting the country. After collapsing during mass, Alfred recovers and decides to make a pilgrimage to Lindisfarne. Ivar returns to meet Harald, and makes an alliance with him; they plan to attack Kattegat in two months' time. Ivar threatens and persuades Heahmund to fight with them. Astrid betrays Harald by bribing Hakon, a fisherman, to warn Lagertha. She is blackmailed and raped by the crew, spied by a young boy. Hakon delivers the warning. Meanwhile, in Africa, Bjorn manages to escape during the sandstorm. With Halfdan and Sindric, he sails back to Kattegat.https://en.wikipedia.org






The story is told in flashbacks set during a 1947 testimony William Moulton Marston gives to representatives of the Child Study Associ...


The story is told in flashbacks set during a 1947 testimony William Moulton Marston gives to representatives of the Child Study Association of America. William and his wife Elizabeth are teachers at Harvard and Radcliffe Colleges in 1928, when William hires a new teaching assistant named Olive Byrne, the niece of Margaret Sanger. Elizabeth notes William's interest in having sex with Olive (despite her already being engaged), initially permitting William to pursue his interest but then crudely warning Olive not to have an affair with him. Nonetheless, Olive stays on as a teaching assistant, aiding in the Marstons' work in inventing the lie detector and conducting research on William's DISC theory on human interaction. A final test of the detector leads to Olive revealing that she has fallen in love with both William and Elizabeth. She ultimately decides to break her engagement to go live with the Marstons. But soon after, the Marstons get fired.

The Marstons and Olive settle in a New York suburb. Both Elizabeth and Olive bear children by William, with Olive telling the neighbors that she's a widow. Elizabeth takes a job as a secretary, a job William comes to admire greatly. William stumbles upon a shop run by Charles Guyette, who introduces him to fetish art themed comics and photos. The art captures William's imagination as a demonstration of his DISC theory, and Olive shows an interest in sadomasochism. Elizabeth is initially hostile to the art, but she relents during a presentation by Guyette, wherein he and Olive construct an outfit that would be the prototype for Wonder Woman's costume.

After finding limited work as a writer, Marston gets the idea of creating a comic book featuring an Amazon superheroine. The comic would promote his ideas on DISC theory, and draw inspiration from his work on the lie detector as well as Elizabeth's work as a secretary. He sells his idea hard to Max Gaines, then publisher at National Periodical Publications (today DC Comics), who ultimately accepts the comic after simplifying the superheroine's name to "Wonder Woman." "Wonder Woman" is an instant hit, leading to prosperity for the Marstons/Byrne family. But one day, their neighbor Mary wanders into their home and catches the three having sex. This incident leads to their children getting bullied and asked to leave school. Thinking they have no other choice, Elizabeth orders Olive to leave the household with her children. At the same time, the "Wonder Woman" comic gets growing accusations of featuring sadomasochistic and lesbian imagery that lead to the testimony.

After completing the testimony, William collapses and is rushed to the hospital. Learning that he is dying of cancer, William asks Olive to see him and Elizabeth again. After both Marstons get on their knees to beg for her forgiveness, Olive agrees to come back to them. Closing credits reveal that after William died, Olive and Elizabeth continued to live together, with Elizabeth reaching 100. The credits also note that sadomasochistic imagery disappeared from the "Wonder Woman" comic after William's death, and Wonder Woman subsequently lost her super powers. However, the character regained them after being praised by Gloria Steinem when she put the character on the cover of an issue of Ms. Magazine as the quintessential symbol of female empowerment.

The credits conclude that today Wonder Woman is hailed as the greatest of the female superheroes.https://en.wikipedia.org






The film begins during WWII, in 1941, with A. A. Milne (Domhnall Gleeson) – nicknamed "Blue" by his friends and family – and...


The film begins during WWII, in 1941, with A. A. Milne (Domhnall Gleeson) – nicknamed "Blue" by his friends and family – and his wife Daphne (Margot Robbie) receiving a distressing telegram at their home. It then changes timeframe to a few decades earlier with Blue fighting in the Battle of the Somme, then resuming his life in England while suffering shell shock with occasional flashbacks to his battle experiences, and having a child with Daphne. She was hoping for a girl, and is disappointed to instead have a son, whom they name Christopher Robin Milne but call "Billy". They hire a nanny Olive (Kelly Macdonald) who is given primary responsibility for raising the child.

Blue is having difficulty resuming his writing – he wants to draft a compelling treatise against war – and relocates the family to a house in the country with wooded acreage. Daphne resents the move, and at one point returns to London for an extended period. When Olive takes leave to care for her dying mother, Blue and Billy (Will Tilston) are left to fend for themselves for a time. Reluctantly at first, Blue takes Billy along on walks in the woods, and begins making up stories about the boy's adventures with the stuffed animals the parents have bought for him along the way.

Blue invites his illustrator friend Ernest to join them at the house, and together they develop the Winnie-the-Pooh books, which become a huge success. Daphne returns to the house to help manage their newfound celebrity. As "Christopher Robin", Billy makes frequent public appearances he finds confusing and frustrating. Olive becomes engaged and resigns, but admonishes Blue and Daphne for what they are putting Billy through. Blue resolves to stop writing about the boy and his imaginary friends, and ends Billy's publicity activities, instead enrolling him at a boarding school.

But "Christopher Robin" is bullied at the school, and (now played by Alex Lawther) emerges bitter toward his father. When World War 2 breaks out, Billy is initially declared unfit for the draft, but he demands that his well-connected father – despite being horrified by war and the prospect of his son experiencing what he did – get him enlisted regardless. Billy leaves for service, turning his back on his father, and disowning the books and the money from them.

The opening scene is replayed, this time explaining that Billy has been reported missing, and is presumed dead, news they pass along to Olive. However, Billy has survived, and arrives at the country house without warning, leading to awkward but tearful reunions with his parents, and a joyful reunion with his surrogate mother. Blue and Billy have a reconciliation of sorts, and they are seen walking in the woods as a young child and younger man.https://en.wikipedia.org




 DOWNLOAD LINK 3

Pada tahun 1998, di San Francisco, Greg Sestero (Dave Franco), seorang aktor berusia 19 tahun, bertemu dengan seorang pria misterius be...



Pada tahun 1998, di San Francisco, Greg Sestero (Dave Franco), seorang aktor berusia 19 tahun, bertemu dengan seorang pria misterius bernama Tommy Wiseau (James Franco) di kelas aktingnya bersama Jean Shelton (Melanie Griffith). Setelah Tommy mencoba untuk melakukan adegan dari Streetcar Named Desire karya Tennessee Williams, pertunjukannya dipotong oleh Jean. Greg terkesima oleh keberanian Tommy di atas panggung. Beberapa bulan kemudian, Greg dan Tommy membentuk persahabatan yang kuat, meski aneh. Akhirnya, atas saran Tommy, keduanya pindah ke Los Angeles untuk kesempatan berfokus pada karier akting mereka.

Setelah beberapa minggu, Greg menandatangani kontrak dengan Iris Burton (Sharon Stone), salah satu agen bakat muda saat itu. Tommy, di sisi lain, menghadapi penolakan dari agen, sutradara casting dan orang-orang di dalam Hollywood. Greg juga menjalin hubungan dengan Amber (Alison Brie), yang ia temui di sebuah klub malam. Tommy mulai cemburu, emosional, sedih dan putus asa dan siap untuk kembali ke San Francisco. Audisi Greg juga gagal. Greg berbagi rasa frustrasinya dengan Tommy, berharap bisa membuat film untuk memberi peran dirinya sendiri. Tommy benar-benar menerima saran ini.

Selama tiga tahun, Tommy menulis The Room dan menunjukkannya kepada Greg. Meski mengakui ketidakpercayaannya, Greg bersikeras kepada Tommy bahwa naskahnya hebat. Tommy memberinya peran sebagai Mark, bersama dengan kredit produser asosiasi. Greg terpaksa menerimanya. Mereka menyewa Birns & Sawyer, sebuah rumah produksi di Hollywood Utara. Tommy bersikeras membeli semua peralatan produksi itu sendiri, sekaligus bersikeras agar film tersebut direkam di film 35 mm dan HD Digital secara bersamaan. Karyawan Birns & Sawyer mengenalkan Tommy kepada Raphael Smadja (Paul Scheer) dan Sandy Schklair (Seth Rogen), yang masing-masing bekerja sebagai pengawas sinematografer dan naskahnya. Sandy, bagaimanapun, pada dasarnya melakukan semua tanggung jawab sutradara untuk Tommy. Produksi awalnya dimulai dengan mulus, namun Tommy tumbuh semakin narsis dan menuntut. Ia secara lisan menghina anggota kru, berulang kali tidak menghafal naskahnya, muncul hampir setiap hari dan menolak untuk memberikan krunya dengan kebutuhan dasar seperti air minum. Hal ini berpuncak pada Carolyn Minnott (Jacki Weaver), yang berperan sebagai Claudette, pingsan karena kelelahan.

Para kru semakin membenci Tommy, dengan banyak mempertanyakan perilakunya meskipun biaya produksi dikeluarkan tanpa henti tanpa ada yang tahu sumbernya. Ketika persiapan untuk adegan seks, Tommy mempermalukan Juliette Danielle (Ari Graynor), yang berperan sebagai Lisa, di depan seluruh kru, dengan menunjukkan bagaimana "menjijikkan" tubuh Juliette karena jerawat. Kesabaran Raphael habis dan Tommy cepat memecat Raphael. Ketika merekam film The Room di balik layar yang nyaris konstan, Tommy mengungkapkan bahwa ia tahu semua orang membencinya, dan percaya bahwa tidak seorang pun, termasuk Greg, tertarik untuk melihat visinya. Siang harinya, Greg dan Amber kebetulan mendapat tawaran dari aktor Bryan Cranston dari sitkom Malcolm in the Middle, yang mengundang Greg untuk berperan sebagai penebang kayu kecil dalam episode yang saat ini sedang syuting. Greg memohon Tommy untuk menunda pengambilan gambar sehari demi membantu kesempatan Bryan Cranston, namun Tommy menolak, membuat Greg semakin kecewa dan menyebabkan Amber berpisah dengannya. Pada hari terakhir, Greg akhirnya memanggil Tommy untuk diberi hak dan bersifat egois selama persahabatan mereka dan mempertanyakan umur, latar belakang, dan sumber pendapatannya. Mereka mengalami perkelahian fisik singkat dan tidak bertemu selama delapan bulan.

Akhirnya, Tommy mengundang Greg ke pemutaran perdana film The Room. Greg terkejut bahwa Raphael, Sandy dan seluruh pemeran dan kru hadir. Tommy memperkenalkan film tersebut dan terus berlanjut, seluruh penonton perlahan-lahan tertawa terbahak-bahak karena film tersebut dibuat dengan mengerikan. Tommy berjalan keluar dari teater, kesal dengan reaksi ini, namun Greg menghiburnya, memberitahu Tommy bahwa meski mungkin itu bukan reaksi yang diharapkan, mereka belum pernah melihat penonton bersenang-senang di bioskop. Dengan sedikit perspektif ini, Tommy kembali ke depan teater saat kredit bergulir, mendapat pujian atas film yang bernuansa "komedi" tersebut dan mendapat tepuk tangan meriah dari penonton.

Film ini mengungkapkan video klip nyata Tommy menghadiri pemutaran perdana film The Room dan menjelaskan bahwa film tersebut mendapatkan $1,800 dari anggaran $6 juta yang dilaporkan selama rilis awalnya (Tommy mempertahankannya selama dua minggu, yang diduga lolos ke Academy Award), namun sejak saat itu, film The Room menjadi film kultus yang menguntungkan. Tommy dan Greg tetap berteman, dan hingga saat ini, usia Tommy, latar belakangnya dan sumber pendapatannya tetap menjadi misteri. Adegan dari film The Room kemudian dibandingkan berdampingan dengan pemunculan ulang adegan yang dilakukan oleh pemeran The Disaster Artist.

Dalam adegan pasca-kredit, Tommy memiliki pertukaran verbal yang aneh dengan Henry (yang diperankan oleh Tommy Wiseau nyata), yang menawarkan untuk mengobrol, namun Tommy menolaknya.https://id.wikipedia.org






Muhammad: the messenger of god bercerita tentang perjalanan nabi muhammad sewaktu kecil. Film ini digarap oleh rumah produksi nourtaban ...


Muhammad: the messenger of god bercerita tentang perjalanan nabi muhammad sewaktu kecil. Film ini digarap oleh rumah produksi nourtaban film industry yang bermarkas di iran. Pemerintah iran turun tangan untuk mendanai film yang menghabiskan anggaran lebih dari 40 juta dollar. Film ini membutuhkan waktu sekitar 7 tahun untuk menyelesaikannya.
Sampai saat ini movie. Co. Id masih belum memperoleh sinopsis film muhammad: the messenger of god, namun menurut bocoran yang beredar cerita film ini mengisahkan kehidupan kecil nabi muhammad hingga remaja. Dalam sebuah adegan, terlihat sekelompok burung gagak yang melemparkan batu dari udara ke pasukan gajah yang hendak menyerang kota suci mekah. Adegan lain juga memperlihatkan, seorang anak yang menyembuhkan pengasuhnya hanya dengan sentuhan tangan.Film ini pertama kali tayang di bioskop yang terletak di teheran. Pada pembukaan, tiket terjual habis karena antusiasme para penonton yang begitu besar. Film muhammad: the messenger of god disutradarai oleh majid majidi, sutradara yang sebelumnya telah menerima nominasi oscar.SUMBER




In York, Saxon celebrations are cut short when Vikings appear from the sewers and engage in battle. Heahmund is surrounded, but sp...




In York, Saxon celebrations are cut short when Vikings appear from the sewers and engage in battle. Heahmund is surrounded, but spared by Ivar, and captured. The Vikings retake and garrison the city, as the Saxons retreat. Ivar and Hvitserk sail for Kattegat, taking Heahmund with them. In Africa, Bjorn travels by caravan across the desert to meet Emir Ziyadat Allah, who welcomes him and offers to trade. Euphemius disappears and, at a banquet, the Emir explains that he had defected to support the Emperor and has now been captured and executed. The Vikings realise that Euphemius is the meal they are eating and that Kassia is more powerful than she seems. Bjorn, Halfdan and Sindric are arrested and are about to be executed as a sandstorm approaches. Meanwhile, Floki returns to Kattegat with tales of his fabulous new land and recruits settlers to return, despite Lagertha forbidding him from taking her warriors away.https://en.wikipedia.org

Bjorn reaches Sicily, and agrees to act as bodyguard to its commander Euphemius. However, Sindric discovers that Euphemius is merely ...


Bjorn reaches Sicily, and agrees to act as bodyguard to its commander Euphemius. However, Sindric discovers that Euphemius is merely a client of the Arab Emir Ziyadat Allah, and Bjorn asks to visit him. Euphemius refuses but is persuaded to agree by Kassia, a famous nun, and they set sail for Kairouan in Africa. Meanwhile, in Kattegat, Ubbe agrees to ally with Lagertha against both Ivar and Harald. In Vestfold, Astrid finally agrees to Harald's proposal, and they are married. Floki asks the gods for permission to bring settlers to his new land and prepares to sail. Outside York, the Saxons are joined by Judith's cousin Mannel and his men from Northumbria. Heahmund persuades Aethelwulf to lay siege, and attack only when the Vikings are starving. Inside York, the Vikings pretend to burn bodies, and Ivar humiliates Hvitserk by not sharing his plan. Aethelwulf and Heahmund see the smoke from the fires and enter the apparently deserted city https://en.wikipedia.org

Floki explores the new land he has encountered. In Norway, Astrid tempts Harald with the possibility of her alliance, whilst resisti...



Floki explores the new land he has encountered. In Norway, Astrid tempts Harald with the possibility of her alliance, whilst resisting his sexual advances. In the Mediterranean, Sindric advises Bjorn to arrive as a trader, with a few ships, and not as a warrior in command of an entire fleet. In England, the Saxons led by King Aethelwulf and Bishop Heahmund attack York, but are led into a trap. Aethelwulf's son Aethelred is wounded and the Saxons are forced to retreat. Ubbe and Hvitserk propose a peace, but Ivar wants to continue the war. Aethelwulf seemingly accepts their offer, but Heahmund arranges to have the brothers humiliated. With Ubbe having lost face, Ivar secures his position as the leader of the Great Army. Ubbe and Hvitserk prepare to leave for Kattegat with their few followers; however, at the last minute, Hvitserk defects to join Ivar.https://en.wikipedia.org

Slider

Adventure Petualangan dalam perburuan minyak Ikan Paus
Thor harus menghadapi saudara perempuannya , Akankah menjadi ahir kehancuran planetnya ?
Filosofi Kopi 2 Rumit,ketika Wanita yang Ben Sukai ternyata adalah anak dari pengusaha yang merebut ladang kopi ayahnya
The Jungle Harry Potter series
Kebosanan dengan rutinitas kerja, Alam membawa kesadaran kembali Apa tujuan hidup yang berarti.

UPDATED FILM

ads

Pengunjung